Pembelajaran dari Saham HOPE, Pergerakan BACA Tekankan Pentingnya Disiplin Take Profit

 





Jakarta — Pergerakan saham PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) kembali menjadi sorotan di kalangan trader ritel setelah menunjukkan pola yang dinilai menyerupai pergerakan saham HOPE pada periode sebelumnya. Meski sempat memberikan peluang keuntungan, tekanan jual yang berlanjut membuat sebagian pelaku pasar kembali mengalami koreksi, meski dengan tingkat kerugian yang lebih terkendali.

Pada fase awal, saham BACA memperlihatkan sejumlah indikator teknikal yang umumnya diasosiasikan dengan fase akumulasi. Harga bergerak dalam rentang sempit, volume transaksi muncul secara konsisten, frekuensi perdagangan meningkat, serta indikator Relative Strength Index (RSI) berada di area netral. Kondisi tersebut memunculkan ekspektasi bahwa saham berpotensi melanjutkan tren naik.

Namun, pergerakan selanjutnya justru menunjukkan tekanan jual bertahap. Harga ditekan melewati sejumlah area support, diiringi dengan berkurangnya antrean beli di order book dan munculnya rebound singkat yang tidak berkelanjutan. Pola ini memicu kepanikan di kalangan investor ritel, sementara tekanan jual kembali muncul setelah pantulan harga.

Seorang trader ritel yang memantau pergerakan BACA menyebut pola ini memiliki kemiripan kuat dengan saham HOPE, yang sebelumnya juga mengalami fase penurunan tajam sebelum memasuki periode konsolidasi panjang. Perbedaannya, pada kasus BACA, langkah manajemen risiko dilakukan lebih cepat sehingga dampak kerugian dapat ditekan.

“Kesalahan utama bukan pada analisis teknikal, melainkan pada eksekusi. Target take profit awal sebenarnya sudah tercapai, namun tidak dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pengalaman sebelumnya membuatnya lebih disiplin dalam menerapkan cut loss serta menghindari strategi average down agresif di tengah tekanan jual.

Dari kedua kasus tersebut, terlihat bahwa fase akumulasi tidak selalu berujung pada kenaikan harga dalam waktu singkat. Tekanan pasar yang lebih luas, termasuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), juga dapat dimanfaatkan oleh pelaku pasar bermodal besar untuk memperpanjang fase distribusi dan menekan psikologi investor ritel.

Pengalaman ini menjadi pengingat bagi pelaku pasar bahwa take profit merupakan bagian dari manajemen risiko, bukan sekadar keputusan spekulatif. Disiplin dalam merealisasikan keuntungan sebagian posisi dinilai penting, terutama ketika target harga logis telah tercapai.

Dengan evaluasi yang lebih cepat dan kerugian yang lebih terkendali, kasus BACA menunjukkan bahwa proses belajar trader ritel tidak selalu diukur dari besarnya keuntungan, melainkan dari kemampuan membatasi risiko dan memperbaiki kualitas eksekusi di tengah volatilitas pasar.(Editor:aruldomo)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال